Ruwetnya Klaim Asuransi TKI Kita

Kasus TKI meninggal tidak hanyaa menyisakan duka bagi keluarganya, tetapi juga meninggalkan persoalan asuransi yang cukup pelik. Ketidaktahuan keluarga korban akan hak asuransi, salahsatunya menjadi peluang bagi pihak-pihak tertentu untuk memanfaatkan uang asuransi tersebut. “Asuransi TKI meninggal memang menyangkut nominal uang yang cukup besar, jadi wajar jika PPTKIS maupun Perusahaan asuransi tidak mudah memberikan mencairkan hak asuransi tersebut,” ungkap Khazam Bisry, Direktur Lakpesdam NU Cilacap.

Kasus klaim asurani Nadhiroh, warga Cipari kabupaten Cilacap yang meninggal di Abu Dhabi tahun 2009 lalu sampai hari ini juga tidak selesai. Toni, keluarga Nadhiroh yang diberi wewenang untuk mengurus asuransi bahkan sudah merasa lelah pulang pergi Jakarta-Cilacap untuk mengurus asuransi tersebut. Tiap kali ia menanyakan klaim asuransi tersebut, Toni selalu mendapatkan jawaban “sedang di usahakan”.

Kasus Nadhiroh memang menjadi kasus yang cukup kontroversial dari segi pengurusan asuransi. Sesuai penuturaN Toni, Nadhiroh meninggal 2 bulan setelah masa kontrak 2 tahun-nya habis. Sehingga secara langsung, masa asuransi-nya pun sudah tidak berlaku ketika Nadhiroh meninggal. Hal itu yang selalu menjadi alasan pihak PPTKIS maupun perusahaan asuransi untuk tidak memnuhi hak atas asuransi tersebut. Namun yang menjadi persoalan adalah, pada waktu kontrak habis, niat Nadhiroh untuk pulang ke Indonesia selalu di larang oleh majikan. Ia tidak di perbolehkan pulang. GAjinya selama 6 bulan pun belum di bayarkan. Kabar kematiannya pun simpang siur. Kabar pertama yang di sampaikan majikan, ia meninggal karena bunuh diri. Kemudian keluarganya mendapatkan konfirmasi ulang bahwa Nadhiroh meninggal ketika berusaha kabur, kemudian ditemukan polisi sudah dalam keadaan tidak bernyawa.

Sesuai Undang-undang no 39 tahun 2004 pasal 75 ayat 1 bahwa Kepulangan TKI dari negara tujuan sampai tiba di daerah asal menjadi tanggung jawab pelaksana penempatan TKI. Pada kasus di atas, terlihat sekali bahwa korban selalu menjadi pihak yang dirugikan. Baik dari segi pemulangan maupun klaim asuransi yang menjadi hak keluarga korban.

Kasus diatas adalah salah satu kasus asuransi yang tidak selesai. Pada bulan Juli lalu, kasus kematian Tenaga Kerja Indonesia terjadi lagi di Singapura. Tri Sulastri, Warga desa Gandrungmangu Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap di kabarkan meninggal karena bunuh diri di luar tempatnya bekerja. Ia meninggal di garasi PT. Jack karena gantungdiri. PT. Jack sendiri bukanlah agen Tri sulastri ketika pertama ia di tempatkan bekerja. PT. Jack hanya rekanan majikan Tri Sulastri. (ada di berita sebelumnya)
Hak Asuransi keluarga Tri Sulastri di negara Singapura secara otomatis gugur, karena kematian yang di sengaja tidak mendapatkan asuransi di Singapura. Sedangkan di Undang-undang asuransi Tenaga Kerja Indonesia, tidak ada pemisahan jenis kematian yang berhak mendapat klaim atau tidak. Maka seharusnya ahli waris keluarga Tri Sulastri masih mempunyai  hak untuk mendapatkan jaminan asuransi kematian yakni sebesar 40 jt sesuai dengan keputusan menteri tenaga kerja tahun berjalan.

Ketika kami telusuri perjalanan klaim asuransinya sampai dimana, pihak Disnakertrans Cilacap yang di wakili bapak Sutiknyo mengatakan bahwa syarat dan dokumen atas klaim sudah masuk semua. Adapun prosesnya masih diurus oleh PT. Arafah Bintang Perkasa sebagai perusahaan yang memberangkatkan Tri Sulastri. PT. Bintang Arafah Perkasa cabang Cilacap yang sendiri yang di wakili oleh kepala Cabangnya Amah Nurhati dan karyawanya Wiwi mengatakan bahwa mereka masih berkoordinasi dengan PT. Mitra Sejahtera sebagai perusahaan asuransi yang menjamin Tri Sulatri untuk memproses uang jaminan asuransi tersebut.

Proses pencairan asuransi memang tidak mudah. Tidak bisa selesai dalam waktu yang cepat, walaupun sebenarnya bisa dilakukan dalam waktu cepat jika dokumennya sudah lengkap. “Bahkan kadang ada yang sampai dua tahun baru selesai,” ungkap Sutiknyo Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri Disnakertrans Kabupaten Cilacap.

Jika setiap TKI wajib mengasuransikan jiwanya sebesar Rp. 400.000,- tiap masa kontrak, kita bisa berhitung berapa jumlah uang yang masuk ke kantong perusahaan asuransi tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*