Ritual Punggahan Adat Tradisi Anak Putu (ATAP) Kalikudi

tradisi-punggahan-atap-kalikudi-adipala-cilacapRitual punggahan bagi Paguyuban Adat Tradisi Anak Putu (ATAP) Kalikudi Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah sudah menjadi ritual tahunan. Punggahan adalah serangkaian lelaku bekten (ziarah) keturunan dan pengikut ajaran Penembahan Bonokeling ke pepunden yang ada di Komplek Cagar Budaya Makam Bonokeling di Pakuncen Kabupaten Banyumas, pada Jumat besar terakhir menjelang Bulan Ramadhan, antara 10 hingga 13 Juni 2015.

Salah satu yang khas dari ritual ini, para peziarah yang berasal dari Cilacap; Kalikudi, Pakuncen Kroya, Daun Lumbung, Adiraja dan beberapa wilayah lain berjalan kaki menempuh jarak antara 30 hingga 50 kilometer.

Peziarah terbagi menurut jenis kelamin dan pangkat kedudukan dan usia. Terutama kasinoman, mereka adalah pembawa bekal yang nantinya bakal dimasak di Panembahan Bonokeling untuk dimakan bersama dengan ribuan peziarah lain yang berdatangan dari berbagai daerah.

Di Kalikudi, Paguyuban ATAP yang terdiri dari Paguyuban Resik Kubur Rasa Sejati (PRKRS) dan Puji Mulya melakukan serangkaian ritual yang dimulai pada Rabu. Di hari Rabu pagi, baik pasemuan lor maupun kidul melakukan ritual dandan (persiapan) menjelang keberangkatan. Pada waktu itu, ditentukan berapa pikul bahan makanan dan sangu yang akan dibawa ke Makam Panembahan Bonokeling.

Pada Kamis pagi, perjalanan menuju Bonokeling dimulai. Ratusan orang anggota ATAP berjalan melalui jalur yang sudah ditentukan turun temurun beserta lokasi peristirahatan. Lokasi peristirahatan itu adalah di Pasar Kesugihan, Budindan, Durenan, Pasar Dadak, dan terakhir di Bonokeling Pakuncen. Sepanjang perjalanan, kelompok ATAP akan bergabung dengan rombongan lain dalam kelompok masing-masing.

Setiba di Komplek Pemakaman Panembahan Bonokeling, peziarah akan diterima oleh juru kunci, berupa seserahan barang bawaan yang nantinya akan digunakan sebagai sesajen maupun dimasak bersama.

Pada Jumat Kliwon dinihari, sekira pukul 01:00 WIB, seluruh peziarah melaksanakan ritual muji, berdoa untuk Panembahan Bonokeling.

Lalu pada, Jumat Pagi persiapan puncak bekten dimulai pada pukul 05:00 WIB. Sepagi itu, peziarah terbagi menjadi beberapa kelompok berdasar asal daerah dan keturunan. Ada yang mempersiapkan tempat memasak, menyembelih hewan, membersihkan dan mengecat seluruh kompleks makam. Hewan yang disembelih antara lain sapi, kambing jantan dan ayam.

Sekira pukul 12 siang, ritual bekten dimulai. Kali ini, kaum perempuan mendahului lelaki memasuki pepunden. Dalam ritual bekten, peziarah secara berturut-turut melalukan lelaku sesuci, bekten di luar dan dalam pepunden dan makam lain leluhur di kompleks yang sama.

tradisi-punggahan-paguyuban-atap-kalikudi-cilacapPada Jumat malam, ritual muji dan murak tompo dilakukan. Peziarah akan berkumpul di pasemuan agung di dalam kompleks makam Panembahan Bonokeling. Selesai berdoa, makanan yang disiapkan di dapur massal disajikan.

Setelah itu, peziarah akan beristirahat di lokasi yang sudah menjadi hak turun temurun dan pemondokan yang dipersiapkan tuan rumah.

Ritual ini berakhir pada Sabtu pagi ketika mereka berpamitan (bekten) ke juru kunci Panembahan Bonokeling. Setekah sarapan bersama, peziarah pulang ke daerah masing-masing, juga dengan berjalan kaki.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*