Memagari Masjid NU dari Paham Radikal

halaqah-masjid-nu

Depan : KH. Hudalloh Ridwan, Muhammad Makmun Rasyid, Munawar (moderator) (Foto: Emir Lakpesdam PCNU Cilacap)

Paham radikal membahayakan eksistensi bangsa Indonesia. Salah satu pintu berkembangnya paham radikal adalah masjid. Bahkan, masjid yang berhaluan Aswaja Nahdlatul Ulama (NU) juga banyak yang kecolongan.

Masjid NU memiliki simbol khas, seperti bedug dan kenthongan, cat berwarna hijau, adzan Jumat dua kali, wiridan, puji-pujian, dan sebagainya. Masjid NU yang tersisipi paham radikal ditandainya menghilangnya simbol khas. Yang disayangkan adalah masjid menjadi sarana untuk menyebar paham kebencian.

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cilacap melalui Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) menginisiasi halaqah masjid. Acara yang bertema Memagari Masjid NU dari Paham Radikal dilaksanakan pada 29 Agustus 2017 di Aula Universitas Nahdlatul Ulama Imam Ghazali Cilacap. Dua narasumber yang hadir adalah Muhammad Makmun Rasyid S.Ud (Penulis Buku Best Seller “Gagal Paham Khilafah) dan KH. Hudalloh Ridwan, Lc. (Wakil Katib Syuriyah PWNU Jawa Tengah).

Rais Syuriyah PCNU Cilacap, KH Su’ada Adzkiya membuka acara halaqah masjid. Dalam pembukaanya, beliau berharap dengan adanya halaqah reqional ini seluruh masjid dan mushola NU jangan sampai kecolongan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk misi radikalismenya. Selain itu, beliau juga mengungkapkan beberapa contoh kasus masjid-masjid yang tadinya berhaluan Aswaja Nahdlatul Ulama banyak yang sudah direbut oleh kelompok-kelompok berpaham radikal.

Muhammad Makmun Rasyid menyampaikan tentang pergerakan paham-paham radikal khususnya yang memiliki misi mendirikan khilafah Islamiyah di Indonesia yang di antaranya ada HTI, NII, dan sebagainya. Mereka ingin mendirikan sistem khilafah di Indonesia karena menurut mereka, semua bentuk pemerintahan di era kontemporer ini tidak digali dan bersumber dari Al Quran dan Sunnah Nabi. Berbagai cara radikal mereka lakukan guna mencapai tujuan Indonesia menjadi negara daulah Islamiyah dengan sistem khilafah.

KH. Hudalloh Ridwan mengungkapkan beberapa perkembangan paham radikal di Indonesia, terutama yang membawa misi wahabisme dari Timur Tengah. Paham radikal fundamentalisme disebarkan melalui bebagai media, seperti media cetak, majalah, koran, pamflet, pendidikan dan pelatihan, pernerbitan buku, jaringan radio dan televisi, jaringan internet, media sosial, seminar, pengajian, masjid, dan mushola.

KH. Hudalloh Ridwan sangat yakin, NU memagari masjid dengan pondok pesantren yang memiliki ajaran soko guru.

“Insya Allah, selama masih ada NU eksistensi NKRI masih tetap terjaga,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*