Kasus Penahanan Ijazah Buruh Migran Masih Marak

Kasus Penahanan Ijazah Buruh Migran Masih MarakNUSAWUNGU, Kasus penahanan dokumen ijazah dan akte kelahiran oleh Perusahaan Penyalur Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) nampaknya menjadi kasus pelik yang kurang mendapatkan perhatian. PPTKIS seolah menganggap bahwa dokumen tersebut tidak wajib dikembalikan. Bahkan menurut Pendamping Forum Warga Buruh Migran (FWBM) Nusawungu, Ahmad Fajri, dokumen ijazah seolah menjadi jaminan dari para buruh migran agar tidak berpindah agen saat ditempatkan di negara tujuan.

“Memang kasus tersebut masih ada, namun kami tidak bisa menyebutkan secara pasti karena memang tidak terdokumentasi. Sejauh ini kami memberikan pendampingan kepada buruh migran, supaya hak-hak mereka tetap terpenuhi,” ujarnya.

Ahmad menambahkan, di Kecamatan Nusawungu pada tahun 2012 setidaknya ada lima kasus permintaan dokumen ijazah yang diajukan ke Lakpesdam NU Cilacap. Salah satunya Tati Munarti, warga RT 03 RW 03 Desa Karangsembung, Nusawungu. Ijazah milik mantan buruh migran dari Taiwan ini dikabarkan hilang di PT. Haslah. Tahun 2007, Tati menyerahkan ijazah SLTP nya kepada PT. Haslah sebagai salah satu kelengkapan persyaratan untuk mendaftar menjadi buruh migran di Taiwan.

“Saat mau berangkat, ijazah tidak bisa diambil. Pihak agency sendiri berjanji akan menyimpan ijazah tersebut sampai habis masa kontrak, baru bisa diambil,” ujarnya.

Pada tahun 2010 saat Tati kembali ke Indonesia ia datang ke agency tersebut untuk mengambil ijazahnya. Namun tanpa merasa bersalah, pihak agency mengatakan bahwa ijazah Tati telah hilang dan perusahaan tidak bertanggung jawab atas kehilangan tersebut. Mantan buruh migran lainnya, Muhtamiroh juga mengaku pernah mengalami hal serupa. Saat itu, ia akan berangkat ke Hong Kong dan diminta menyerahkan dokumen berupa ijazah. Agen berjanji akan meminta PT.Putra Para Utama untuk mengembalikannya setelah selesai tujuh bulan masa potongan gaji. Akan tetapi, hingga satu tahun ijazah tak kunjung dikembalikan.

“Sampai sekarang memang masih ada kasus semacam itu. Walaupun kadanf hanya ijazah SLTP tetapi sangat dibutuhkan oleh pemiliknya bila suatu saat akan mendaftar kerja di tempat lainnya,” ujarnya.

Kembali menurut Ahmad Fajri, kasus ijazah tersebut merupakan sebagian kecil dari pengaduan buruh migran Indonesia. Selain itu, masih banyak kasus ijazah dan penahanan dokumen lainnya seperti surat nikah oleh agency, yang menimpa TKI asal Nusawungu lainnya. Sumber : Gisa FM Cilacap.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*