Festival Kalikudi 2016 Gotong Royong Dalam Keberagaman

Desa sejak dulu dikenal selain sebagai sebuah sistem pemerintahan juga sebagai sistem kemasyarakatan yang komunal. Dalam komunalitasnya masyarakat desa melahirkan kearifan-kearifan yang kemudian dijadikan sebagai sendi dan semangat dalam menciptakan pranata-pranata sosial. Kearifan lokal tersebut misalnya berupa tradisi gotong royong, musyawarah atau rembugan, sistem kepercayaan, pranata mangsa, sikap tepa slira atau toleransi, lumbung pangan, adat dan budaya, bahasa, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Modal sosial yang luhur inilah yang menjadikan desa dan masyarakat desa mempunyai kekebalan dan kemampuan dalam mengantisipasi sekaligus menangkis ancaman yang datang dari luar dirinya. Tetapi akibat arus modernisasi dan globalisasi sendi-sendi modal sosial itu demikian dahsyat digerus. Beberapa dampaknya adalah desa menjadi sumber masalah kemiskinan serta kerentanan terhadap konflik.

Salah satu modal sosial masyarakat kita yang semakin lama semakin punah adalah kebiasaan bergotong royong. Banyak warga masyarakat sekarang lebih mementingkan kepentingannya sendiri daripada kepentingan bersama. Kebiasaan Gotong royong memunculkan rasa kebersamaan karena didasari sikap sosial tanpa pamrih dari masing-masing individu untuk meringankan beban yang sedang dipikul. Masyarakat Kalikudi berharap, sebagai sebuah desa yang beragam, kebiasaan bergotong royong dalam masyarakatnya harus tetap ada dan menjadi budaya dalam berdesa. Dengan begitu, inklusi sosial dan perdamaian mudah-mudahan akan tercipta dengan sendirinya. Namun, keinginan tersebut tentu membutuhkan media sebagai cara untuk menciptakan dan mempertahankannya. Dalam rangka itulah Festival Kalikudi diadakan sebagai sebuah media.

festival-kalikudi-2016Festival Kalikudi 2016 ini akan dilaksanakan pada : Jum’at – Minggu, tanggal 23 – 25 September 2016. Kegiatan akan dipusatkan dibalai desa Kalikudi kec. Adipala Kab. Cilacap dan tempat-tempat lain di Kalikudi. Bentuk dan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan adalah : Seminar, workshop desa, pengajian umum, panggung rakyat, karnaval seni dan budaya Kalikudi, festival kesenian tradisional, festifal permainan anak, dan pergelaran wayang kulit.

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan akhir program PEDULI (phase 2) lakpesdam NU kab Cilacap atas dukungan dari Kemenkokesra RI dan support pendanaan dari The Asia Foundation (TAF). Pelaksanaan teknis kegiatan acara ini diselenggarakan atas kerjasama dengan Pemerintah Desa Kalikudi-Adipala, Lembaga Desa ATAP dan MWC/Ranting NU Kec Adipala.

Festival Kalikudi selain sebagai media menciptakan dan mempertahankan budaya gotong royong juga sebagai media menciptakan inklusi sosial, media hiburan dan peningkatan kapasitas bagi masyarakat, pemerintah desa serta pegiat desa dari berbagai daerah. Meskipun berangkat dari ide mikro desa, Festival ini diharapkan akan terus menjadi media gotong royong dalam pertukaran pengetahuan, pertukaran ide, pertukaran produk ekonomi dalam skala yang lebih luas, bahkan nasional. Sehingga proses terebut akan melahirkan pemindahan-pemindahan pengetahuan dari kota ke desa maupun antar desa.

Lahirnya UU No 6 tahun 2014 tentang desa memberi harapan penghargaan atas modal-modal sosial desa yang pernah dan masih ada (recognisi) untuk semakin diperankan, berbekal mandat kewenangan hukum yang lebih (Subsidiaritas).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*