Dialog Publik Peduli Lakpesdam NU Cilacap: Persamaan Hak, dan Toleransi

dialog-publik-peduli-lakpesdam-nu-cilacapLembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU Cilacap menggelar dialog publik dalam rangkaian Program Peduli Lakpesdam NU bartajuk “Persamaan Pelayanan, Membangun Harmoni bersama Penghayat Kepercayaan dan Pelestari Budaya Nusantara”, Selasa (27/5).
Dalam dialog publik tersebut hadir sejumlah pemuka kelompok penghayat, Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), Kejaksaan Negeri Cilacap, Polres Cilacap dan dinas terkait.
Ahmad Tohari, budayawan dan pemerhati sejarah lokal mengatakan kepercayaan lokal adalah manifestasi sejarah leluhur yang mestinya memliki hak dan kewajiban yang sama di depan negara. Menurut dia, antara enam agama yang diakui pemerintah dan penghayat kepercayaan harus diperlakukan sama.
Salah satu yang dibahas dalam pertemuan tersebut mengenai KTP strip ( – ) yang menandakan si pemilik merupakan penghayat kepercayaan.
Sekretaris MLKI Cilacap, Basuki Raharja mengatakan berdasar fakta di lapangan, banyak ditemui penghayat kepercayaan yangn memilih mengisi kolom agama dengan agama tertentu dengan berbagai alasan. Alasan pertama adalah demi pelayanan administrasi yang mudah, kedua kehawatiran dianggap atheis yang dianggap identik dengan komunnis oleh sebagian masyarakat.
“Kami terpaksa mengisi KTP dengan agama tertentu karena khawatir dianggap tidak bertuhan. Padahal ini sudah ada dalam UU 43 tahun 2013. Mestinya pemerintah juga mensosialisasikan kepada masyarakat agar keselematan para penghayat kepercayaan terjamin,” ujar Basuki.
Pembahasan lain adalah soal, kebijakan anggaran yang belum memihak kepada mereka. Salah satunya adalah minimnya program dan bantuan pemerintah yang menyentuh kelompok penghayat kepercayaan.
Soal Toleransi, Suriah NU Cilacap, KH Syuada Adzkiya mengatakan NU Cilacap dari zaman dulu sudah sangat bersikap toleran. NU menganut model dakwah walisongo yang sangat menghormati budaya dan kepercayaan lokal.
“Lita’arrofuu, bahwa kami orang-orang NU berhubungan dengan siapa saja, dengan penghayat kepercayaan. Tidak usah saling memusuhi. Ada yang bisa kerjakan bersama, ada pula yang diserahkan kepada kelompok,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*